Tiger Week 2018 : Kearifan Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera

Siaran Press Pra Kegiatan

Selain berperan penting secara ekologi, harimau juga telah menjadi sumber inspirasi dan turut mewarnai budaya dan peradaban manusia utamanya di Sumatra. Salah satunya yakni silek harimau atau silat harimau dari tanah Minang. Para leluhur di Sumatera dan masyarakat lokal percaya bahwa harimau merupakan nenek moyang mereka.  (McNeely and Sochaczewski, 1988; Widodo et al, 2016).. Suku Melayu memanggil harimau sebagai datuk yang bisa diartikan kakek bagi mereka (McNeely and Sochaczewski, 1988; Boomgard, 2001). Sedangkan suku Minangkabau memanggil harimau dengan sebutan inyiak yang juga berarti kakek (McNeely and Sochaczewski, 1988; Boomgard, 2001).Di Aceh masyarakat memberikan sebutan Rimueng. Masyarakat adat menempatkan harimau dalam posisi yang terhormat sebagai simbol penjaga ketentraman wilayah (Kartika, 2013). Seperti petani hutan di sumatera mengeramatkan harimau dengan membiarkan durian jatuh pertama untuk satwa tersebut sebagai simbol bahwa mereka dituakan (Kholis et al, 2017).

Kearifan lokal sebagai sistem pengetahuan kolektif dan turun temurun mampu membuat masyarakat sumatera hidup harmonis berdampingan dengan harimau. Harimau ini juga dijadikan landasan masyarakat dalam kehidupan sosial,  Tidak hanya mengatur bagaimana bersika di dalam hutan yang merupakan habitat harimau kearifan lokal ini juga mengatur tatanan sosial di masyarakat seperti halnya, masyarakat percaya bahwa harimau akan turun ke kampung jika dan hanya jika terjadi kesalahan masyarakat yang melanggar norma sosial seperti berzina, mencuri dan lain-lain (Kartika, 2013). Namun kearifan lokal tersebut kini mulai luntur seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi.  Monilitas orang yang semakin mudah membuat kearifan lokal ini semakin memudar bahkan di beberapa tempat sudah hilang.

Dulu, ketika terjadi konflik (harimau turun ke kampung) masyarakat akan melakukan self-reflection dan bermusyawarah di kampung untuk melakukan perbaikan pada manusia karena mereka menganggap manusialah yang memiliki kesalahan.  Namun saat ini ketika terjadi konflik masyarakat cenderung main hakim sendiri dan melakukan tindakan balas dendam dengan membunuh harimau karena mengagapnya sebagai ancaman. .

Penguatan kembali kearifan lokal untuk mendukung pelestarian harimau, khususnya di Sumatera sangat mendesak dilakukan. Upaya pelestarian harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) harus seimbang dengan tetap menjaga harimau di habitatnya dan memperhatikan aspek sosial terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan harimau. Penuatan kearifan lokal ini pada akhirnya dapat menjadi penyeimbang dalam mencapai tujuan akhir pelestarian harimau.

Status konservasi harimau saat ini masih kritis (terancam punah) (IUCN, 2008), berdasarkan hasil dari Population Viability Analysis (PVA) tahun 2016 jumlah harimau sumatera diperkirakan kurang lebih 600 individu yang tersebar di 23 lanskap di sumatera.

Forum HarimauKita dan Tiger Heart (Jaringan Relawan Forum HarimauKita) mengadakan rangkaian kegiatan yang bernama Pekan Harimau (Tiger Week) pada tanggal 23-29 Juli 2018 berlokasi di Padang dan Pariaman, Sumatera Barat. Rangkaian kegiatan ini digagas untuk menjadi ajang berbagi informasi dan penyadartahuan tentang harimau sumatera. Selain itu, juga mengajak berbagai pihak untuk berperan aktif dalam upaya konservasi harimau sumatera dengan mengangkat kembali unsur budaya dan kearifan lokal.

Pekan Harimau (Tiger Week) mengangkat tema “Kearifan Lokal untuk Konservasi Harimau Sumatera” dengan tagline Science, Nature and Culture. Kegiatan selama sepekan ini berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Kota Pariaman, Universitas Andalas, Disney Conservation Fund, Sumatran Tiger Project, GEF-UNDP, The Rufford Foundation, Fauna-Flora International – Indonesia Programme, Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, WWF Indonesia, Zoological Society of London – Indonesia Program, Wander, Greeners, dan Warna Fm.

Tiger Week akan dibuka dengan kegiatan pertama yakni Rufford Small Grants Conference (RSGC). Konferensi akan berlangsung pada 23-24 Juli 2018 di gedung Convention Hall Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Acara ini menjadi ajang bertukar informasi dan diskusi antara 20 penerima dana penelitian (grantees) Rufford dari Indonesia dengan 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, praktisi konservasi, akademisi, peneliti serta staf pemerintah. Sebagai pembuka konferensi akan ada pembicara utama yakni Dr. Sunarto dari Forum HarimauKita dan WWF Indonesia serta  Josh Cole, Ph.D dari The Rufford Foundation. Selanjutnya para penerima hibah akan mempresentasikan kepada peserta terkait upaya konservasi yang telah atau sedang mereka lakukan.

Bersamaan dengan hari kedua konferensi akan dilaksanakan juga pelathan advokasi dan investigasi dalam konservasi satwa liar khususnya harimau sumatera. Pelatihan ini akan diikuti oleh perwakilan Tiger Heart dari 10 kota, jurnalis lokal, staf pemerintah serta praktisi konservasi. Pelatihan akan dimentori oleh Ridzky R. Sigit dari Mongabay Indonesia pada materi advokasi dan Giyanto dari Wildlife Conservation Society-Indonesia Program pada materi investigasi. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan generasi muda dalam mempengaruhi kebijakan pihak pengambil keputusan agar dapat melestarikan kearifan lokal untuk konservasi harimau sumatera. Selain itu juga,melatih kemampuan investigasi dalam mendapatkan informasi yang akurat untuk menekan kejahatan terhadap satwa liar khususnya harimau sumatera.

Hari berikutnya yakni Jambore Tiger Heart yang merupakan pertemuan tahunan bagi Tiger Heart untuk mensinergikan aksi maupun evaluasi kegiatan agar lebih efektif dan berdampak besar. Kegiatan ini akan dihadiri perwakilan Tiger Heart dari 10 kota (Purwokerto, Jakarta, Lampung, Palembang, Bengkulu, Jambi, Riau, Padang, Medan dan Aceh).

Selanjutnya pada tanggal 27-28 Juli 2018 akan diadakan pertemuan tahunan anggota Forum yang juga memperingati 1 dekade (10 tahun)  berdirinya Forum HarimauKita (FHK). Dalam pertemuan tersebut akan ada kilas balik serta rekam jejak peran FHK dalam konservasi harimau sumatera di Indonesia. Pertemuan ini juga akan berisi lesson learned penanganan konflik manusia-harimau.

Tiger Week kemudian ditutup dengan peringatan Global Tiger Day (GTD) tanggal 29 Juli 2018 yang dikemas dalam Tiger Festival. Terdapat beberapa kegiatan yang bersamaan peringatan tersebut yakni lomba fotografi, lomba pertunjukan seni dan budaya (tari semikontemporer, cipta dan baca puisi, teater dan lomba mewarnai) dan ajang lari bersama yang bernama 5K- Run For Tiger sejauh 5 kilometer yang berlokasi di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *