Kearifan Lokal yang Memudar oleh Perburuan dan Perdagangan Satwa Liar

Kearifan lokal saat ini tidak lagi menempati posisi yang tertinggi sebagai falsafah hidup yang dianut oleh masyarakat di Sumatera. Tercermin dari sudut pandang yang saat ini terbangun bahwa harimau tidak lagi dalam posisi yang terhormat seperti sebutan datuk, rimueng, inyiak, lemong dari beberapa daerah di Sumatera.

Dari situasi tersebut kita membutuhkan pemamaham terkait akar permasalahan serta strategi untuk mendorong sikap positif masyarakat untuk memperkuat kembali kearifan lokal.

Kejahatan terhadap satwa liar masih terjadi hingga saat ini seperti box yang berisi kulit harimau, satwa ditemukan mati atau bahkan harimau yang ditombak oleh masyarakat. Satwa langka harimau sudah dilindungi dalam peraturan internasional, bahkan di nasional sudah ada dokumen Strategi Rencana Aksi dan Konservasi (SRAK), namun belum kuat posisi perlindungan harimau di masyarakat.

Forum HarimauKita (FHK) bersama Sumatran Tiger Project, GEF-UNDP ingin terus berupaya dalam memperkuat upaya pelestarian harimau sumatera dari segala sisi, salah satunya yakni dengan membangun kesepahaman terkait perdagangan satwa liar serta upaya advokasi ke pemangku kepentingan.

Kerugian akibat perdagangan dan perburuan

Patih fahlapie, investigator dan praktisi konservasi satwa liar spesifikasi kejahatan terhadap hidupan liar mengatakan permintaan pasar yang tinggi dengan keuntungan yang besar memicu praktek perburuan satwa liar terus terjadi. Perburuan dan perdagangan dilakukan oleh jaringan yang terorganisir, bahkan beberapa jenis satwa dikendalikan oleh jaringan dan pasar internasional. Terkadang melibatkan oknum aparat penegak hukum.

Patih yang berafiliasi di Wildlife Crime Unit, Wildlife Conservation Society-Indonesia Program menjelaskan kerugian finansial Indonesia akibat perdagangan satwa liar ilegal mencapai Rp 9 trilyun/tahun. Selain itu, juga kehilangan nilai-nilai kearifan lokal (adat) di beberapa lokasi, karena jenis satwa tertentu dikeramatkan (dihormati). Kerugian lainnya yakni beban moral dan nasionalisme yang berupa citra buruk di mata dunia internasional. “Salah satu potensi bahaya yang dapat terjadi yakni penularan penyakit dari satwa ke manusia atau sebaliknya (zoonosis) “, tutur Patih.

Advokasi untuk sang Datuk

Ridzki R. Sigit dari Mongabay Indonesia sebagai pemateri pelatihan advokasi mengatakan bahwa advokasi diartikan sebagai proses untuk mengajak orang lain untuk membuat perubahan. Prosesnya dengan mengubah cara pandang (mindset) komunikan terhadap sebuah permasalahan. Dalam membangun sebuah advokasi yang baik terdapat 7 langkah yakni mendefinisikan situasi yang sedang dihadapi, mengidentifikasi tujuan dan capaian, mengidentifikasi target dan sasaran, membangun pesan kunci, mengimplementasikan rencana kerja, membangun hubungan dengan media, serta monitoring dan evaluasi.

“Advokasi harus juga melibatkan kelompok-kelompok lain, makin banyak orang yang bersuara maka akan semakin bagus dan makin terdengar” ungkap Ridzki.

Ridzki melanjutkan bahwa dalam kerangka berpikir untuk advokasi kita perlu memetakan para pihak atas situasi terkait konservasi harimau sumatera. Dengan pemetaan tersebut kita dapat menentukan bentuk persuasi yang tepat. Tujuan dari adanya advokasi yakni menempatkan pihak-pihak ideal pemangku kepentingan yang fokus pada konservasi harimau sumatera pada posisi yang terkuat. Dari situ kita dapat menciptakan dukungan yang berpengaruh pada pihak yang punya kekuatan yang besar. Sebaliknya pihak-pihak yang mengancam atau mengganggu dengan ketertarikan yang tinggi kita dorong pada posisi kuadaran yang paling lemah untuk menurunkan kekuatan (power). Ridzki mengatakan bahwa semakin spesifik kita identifikasikan audiensinya maka semakin efektif komunikasi yang akan dilakukan oleh kita.

Peserta pelatihan ini meliputi anggota Tiger Heart sebanyak 18 orang dari 9 kota (Jakarta, Lampung, Palembang, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Padang, Medan, Banda Aceh), 6 orang staf Humas BKSDA Sumatera Barat-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta 5 wartawan (jurnalis) lokal.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait perdagangan dan perburuan terhadap satwa liar serta selanjutnya dapat meningkatkan keterampilan advokasi dalam upaya konservasi harimau sumatera. Harapannya dari pelatihan ini akan muncul pelopor atau kader generasi penerus yang dapat dipercaya atau sumber informasi untuk pelestarian harimau sumatera (generasi pro konservasi).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *